Mengenal Julius Robert Oppenheimer, Penemu Bom Atom Hiroshima & Nagasaki

Mengenal Julius Robert Oppenheimer, Penemu Bom Atom Hiroshima & Nagasaki

Baru-baru ini, dunia perfilman sedang ramai membicarakan sebuah film karya Christopher Nolan, yaitu Oppenheimer. Film ini mengisahkan seorang fisikawan asal AS, bernama Julius Robert Oppenheimer, seorang tokoh penting di balik bom atom yang berhasil meluluhlantakkan Kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.

Tokoh ini penting untuk kamu pelajari karena perannya sebagai penemu bom atom sangat berkaitan dengan peristiwa kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, yuk kita bahas bersama sang bapak bom atom dunia, Oppenheimer!

Siapa Robert Oppenheimer?

Oppenheimer menjadi salah satu tokoh penting yang turut menghiasi sejarah dunia pada abad ke-20. Ia dikenal sebagai ahli teoritis fisika sekaligus pemimpin dari laboratorium Los Alamos saat perang dunia kedua berlangsung.

Selain dikenal sebagai fisikawan, ia juga kerap disapa sebagai bapak bom atom dunia akibat ciptaannya dalam proyek Manhattan yang menghasilkan senjata nuklir pertama dalam sejarah umat manusia. Akan tetapi, sebelum membahas lebih dalam tentang sepak terjangnya dalam dunia fisika, mari kita mengenal masa muda Oppenheimer.

Masa Muda

Julius Robert Oppenheimer lahir pada 22 April 1904 di New York, Amerika Serikat. Ayahnya bernama Julius Seligmann Oppenheimer, seorang importir tekstil, dan ibunya bernama Ella Friedman, seorang pelukis. Robert memiliki seorang adik laki-laki bernama Frank Friedman Oppenheimer yang kelak menjadi fisikawan seperti dirinya.

Pada tahun 1911, ia menjalankan pendidikannya di Ethical Culture Society School, di mana saat itu ia menunjukkan ketertarikan di bidang literasi Sastra Inggris dan Prancis, serta ilmu mineralogi. Di sekolah, Robert kerap disebut sebagai siswa yang jenius. Hal ini dibuktikannya dengan bagaimana ia dapat menyelesaikan kelas 3 dan 4 dalam satu tahun saja.

Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah tersebut pada tahun 1921, kemudian melanjutkannya ke Harvard College. Di Harvard, ia mengambil jurusan kimia dan mendalami fisika eksperimental.

Selama kuliah, Oppenheimer sangat menyukai ilmu fisika, hingga teman-temannya kerap menyebut dirinya sebagai seorang pecandu fisika yang merusak dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan waktunya ia habiskan untuk merokok sambil melakukan pekerjaan dan pemikiran-pemikiran fisika, tanpa makan dan tidur.

Selain di Harvard, ia juga diterima di Cambridge University pada tahun 1924. Akan tetapi, ia tidak terlalu betah di Cambridge, hingga akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jerman dan berkuliah di Göttingen University, tempat pusat fisika teori termasyhur di dunia. 

Di sana, ia belajar langsung di bawah bimbingan Max Born. Ia juga bertemu dengan teman-teman sesama fisikawan, seperti Werner Heisenberg, Pascual Jordan, Wolfgang Pauli, Paul Dirac, Enrico Fermi, dan Edward Teller. Oppenheimer merasa nyaman berkuliah di sini karena ia mendapatkan apa yang menjadi minatnya selama ini.

Baca Juga:

Sifat Rasuna Said yang Bisa Diteladani

Setelah lulus pada tahun 1927, Oppenheimer menerbitkan lebih dari selusin jurnal yang membahas tentang mekanika kuantum. Ia bersama gurunya, Max Born, juga menerbitkan jurnal yang membahas soal pemisahan gerakan nuklir dari gerakan elektronik dalam perlakukan matematis molekul.

Proyek Manhattan

Tahun 1936 an merupakan masa-masa yang menegangkan untuk dunia. Pada masa ini, Oppenheimer mulai menunjukkan idealismenya terhadap dunia perpolitikan yang ditandai atas dukungannya terhadap pihak republik selama perang sipil Spanyol berlangsung.

Di tahun 1939, Jerman yang berhasil mengambil alih Polandia menjadi ancaman untuk Amerika Serikat. Tiga ahli fisika, yaitu Albert Einstein, Leo Szilard dan Eugene Wigner memperingatkan AS akan bahaya dari Jerman, terlebih jika Jerman berhasil mempelopori senjata nuklir.

Menanggapi hal ini, militer angkatan darat AS diperintahkan untuk mengorganisir gabungan kelompok fisikawan Inggris dan AS untuk mencari cara dalam memanfaatkan energi nuklir pada Agustus 1942. Maka, dibentuklah sebuah proyek yang disebut sebagai Proyek Manhattan.

Di proyek tersebut, Oppenheimer ditugaskan sebagai ketua sekaligus mendirikan serta mengelola laboratorium Los Alamos sebagai pusat penelitian. Upaya-upaya penelitian di Los Alamos mencapai puncaknya di 16 Juli 1945, tepatnya ketika senjata nuklir pertama kali diuji coba di situs Trinity, sebuah situs berbentuk gurun yang terletak di dekat Alamogordo, New Mexico. 

Senjata nuklir itu berhasil dibuat dan dinilai menjadi senjata ledakan paling mematikan sepanjang sejarah. Sebulan kemudian, AS menjatuhkan dua senjata nuklir bom atom yang diberi nama “Fat Man” dan “The Little Boy”, ke Hiroshima dan Nagasaki yang turut membuat Jepang harus mundur dari perang dunia kedua. 

Perang yang berkepanjangan itu kemudian berakhir dengan kemenangan blok sekutu atas blok poros dan peristiwa tersebut juga menjadi momentum besar bagi kemerdekaan Indonesia, di mana setelah kekalahan Jepang, kaum muda memaksa Soekarno dan Hatta mengumumkan proklamasi kemerdekan.

Dengan demikian, bom atom temuan Oppenheimer bersama fisikawan lainnya merupakan salah satu faktor yang dapat mengakhiri perang dunia ke 2, meskipun ratusan ribu jiwa harus menjadi korban.

Baca Juga:

7 Pahlawan Revolusi

Penyesalan Oppenheimer

Oppenheimer menyesal sekaligus menderita atas hasil kerjanya yang dipergunakan untuk membunuh banyak jiwa yang tidak bersalah. Ia memutuskan untuk mundur dari pekerjaannya pada tahun yang sama pasca peristiwa di Hiroshima dan Nagasaki.

Oppenheimer menjadi pribadi yang lebih depresi daripada biasanya. Ia juga kemudian turut menentang berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah AS, salah satunya adalah kebijakan terhadap bom hidrogen atau bom nuklir karya Edward Teller. Oleh karena itu, Oppenheimer kerap dituding sebagai pengkhianat dan berhubungan dengan fraksi-fraksi Komunis.

Pada tahun-tahun terakhirnya, ia berprofesi sebagai seorang akademisi. Oppenheimer mendapatkan penghargaan “Enrico Fermi Award” dari Presiden Lyndon B. Johnson atas kiprahnya dalam komisi energi atom pada tahun 1963. Tiga tahun setelahnya, Oppenheimer harus pensiun dari karirnya akibat kanker tenggorokan dan kemudian wafat pada 1967 di usianya yang menginjak angka 63 tahun.

Sumber:

https://kumparan.com/abrar-rizq/mengenal-sosok-oppenheimer-sang-bapak-bom-atom-dunia-20lFu6P5RP1/full

https://internasional.kompas.com/read/2021/10/19/135613470/biografi-julius-robert-oppenheimer-penemu-bom-atom?page=allhttps://www.kompas.com/tren/read/2023/07/15/083000365/siapa-robert-oppenheimer-bapak-bom-atom-dalam-film-terbaru-christopher?page=all

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *

wpChatIcon
wpChatIcon